Sabtu, 25 Desember 2010

BAB 2 MENCARI JAWABAN

hujan membasahi bumi dengan garangnya seakan akan dirinya tiada henti menunjukkan keperkasaannya sekali kali terdengar suara petir bergemuruh yang tak mau ketinggalan menunjukkan kehebatannya.pagi tlah hadir dengan senyuman terbaiknya kulirik jam di tangan kananku,jam stngah lima bisikiku.mata ini tak mau berontak ingin saja selalu tertutup merasakan kehangatan pagi yg dingin dengan irama hujan menawarkan rasa ngantuk yang dalam.tapi hatiku ku berontak untuk bangun secepatnya,kulangkahkan kakiku menuju dapur dan seperti biasa biasanya aku melakukan apa yang sepantasnya aku lakukan aku tak mau ibuku terbangun lebih dulu untuk memasak hidangan sarapan pagi,itulah sahabat meskipun aku lelaki aku tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan wanita karena bagiku itu adalah sepantasnya karena di keluargaku hanya satu wanita,kakakku itupun sudah merantau kebatam oleh karena itu aku bisa dikatakan merangkap wanita di rumah ini(tersenyumlah seandainya senyuman itu tdk membodohi dirimu)
seiring waktu hujan pun berhenti begitu juga dengan masakanku tlah selesai,tepat jam enam.kudengar langkah sayup menuju kearahku kulirik ternyata ibuku tlah terbangun tergesa gesa.di bibirnya terlihat senyuman yang hangat
"masak apa dek??"tanyanya
"masak ikan teri sambal bu tapi sayurnya tidak ada"jawabku
"ya gak apa apa yang penting adikmu sama bapakmu bisa sarapan"sahutnya
langkahnyapun pergi meninggalkan ruangan dapur dan akupun bergegas segera membuatkan kopi .
kudengar suara teriakan ibu dri kamar adikku
"bangun bangun,ini sudah jam berapa..kamu terlambat nanti lagi ke sekolah"teraiaknya
"awas ya klo dirimu terlambat lagi,mau jadi apa kau kelak"lanjutnya
terdengar rengekan simanja sambil menmgibas ngibaskan kakinya ke dinding kamar
berharap ibu menghentikan omelannya
"iya ..iya 10 menit lagi"jawabnya
dengan teriakankerasnya ibu menyahut"tak ada tawar menawar jangan sampai kusioram pake air ya"
segara saja kudengar suara gemuruh,tergesa gesa keluar dari rumah,dan hatikupun tertawa melihat tingakh ibu dan adikku yang nyaris setiap hari selalu dibanguni.seteko kopi kubawa ke ruang tamu ,ternyata bapak sudah bangun dari tadi,dengan santainya dirinya merokok sambil menonton siaran berita liputan 6,lelaki pendiam ini hanya terdiam ketika aku menghampirinya.
hari ini aku akan mengejar mimpi mimpi di balik sebuah kekalahan,hari ini tibalah saatnya genderang perang akan kulantunkan bahwa aku tak mau kalah kedua kalinya,jam enam sore tepatnya bus kami akan berangkat ke dumai lalu jam enam pagi stelah tiba di dumai sejam istrirahat kita menuju kapal laut waktu yang di perlukan sehari semalam dimana jam tiga sore tiba di batam.mengurung iri adalah yang terbaik yang harus kulalkukan meresapi dri semua hidup ini
semuanya kembali dari nol,ada rasa takut yang mengalir di dadaku ketika aku harus bertempur di negeri orang,apakah aku bisa un tuk bertahan atau aku kalah kembali atau aku akan menjadi batu sandungan orang tuaku dan biarkanlah tuhan yang merangkainya
mimpi mimpi yang terbuang dialtar para manusia kalah bangkit berdiri menantang sombongnya bintang kutuntun langkahku untuk menjadi bijak walau gimana kerasnya hidup aku harus bertahan dan janjiku aku takkan pulang sebelum aku memenangi pertempuran hidup.
kupandang kembali puisi di dinding kamarku,tetes air mata menambaah suasana gundah putus asa ketika semuanya harus berakhir,kembli puisi itu 2ubaca denga rasa yang dalamada sengatan menambah semangatku bahwa semuanya tak perlu untuk dipikirkan dan mungkin juga disana kita bisa meraih mimpi bukankah banyak orang sukses di perantauan,kukepalkan kembali kedua tanganku yang rapuh karena sebentar lagi mimpikukan tergadai di kota batam menjadi buruh,buruh yang gajinya sangat minim dan masa depan yang sangat suram menurut ku ,tak ada yang datang tanpa dipikirkan dan kesuksesan di butuhkan kerja keras hanya orang yang pernah mengalami pendritaan yang mampu menjadi manusia bijaksana,hari ini adalah akhir dri segalanya kenangan yang indahkan terbawa seiiring dekapan seribu bintang,inilah perang sesungguhnya aku berjanji"bisikku

aku dilahirkan di atas para manusia kalah
lihatlah saudara aku dan kamu adalah berasal dari tanah yang sama
mimpi kita adalah mimpi para manusia bijaksana
kitakan beriringan seiring waktu yang terus berputar
meraih mimpi dri kekalahan
bangkit dri penderitaan
berlari dari putus asa yang menghadang
bermimpilah para kawanan
sebelum mimpi itu menjadi musuhmu
perjalanan bukanlah sebuah halangan
perjalanan adalah sebuah perubahan
perubahan untuk maju di depan
meraih pelangi di angkasa
seribu kekalahan di depan
senjatai dirimu dengan kesabaran
hanya dengan kesabaran
adalah awal dri kemenangan

lamunanku terhenti ketika suara ibu memanggil namaku